Tuesday, 28 June 2016

[TUTORIAL] Putus-Nyambung, oh Kabelku

Kabel laptopku udah sering mengalami putus-nyambung. Untungnya nggak nular ke aku. Hahahaha.. Kayak kemarin. Bambi, anjingku yang rakus (besok aku ceritain tentang Bambi deh), menggigiti kabel laptop yang tergeletak di lantai kamar hingga putus menjadi beberapa bagian. Waktu itu aku baru bangun tidur. Mau kumarahin ya kasihan, orang ini salahku juga sembarangan meletakkan barang. Akhirnya kuberesin aja sambil mikir berapa ya harga charger laptop yang baru.

Aku sudah berencana akan pergi berburu charger laptop pagi tadi. Akan tetapi, aku teringat akan kejadian kabel putus sebelumnya. Mas Kocor sudah berulang kali menolongku untuk menyambungkan kabel charger laptop yang letaknya dekat dengan adaptor dan selalu berhasil. Kalo waktu itu aja bisa, berarti sekarang juga bisa bahkan mungkin lebih gampang karena posisinya bukan di dekat adaptor. Okelah, aku coba benerin sendiri dulu sebelum beli yang baru.

Peralatan yang aku pakai ada:
- gunting
- isolasi hitam

Eksekusi:
  1. Potong bungkus kabel bagian luar. Hati-hati jangan sampai serabut kabelnya ikutan putus.
  2. Lepaskan bungkus kabelnya.
  3. Pinggirkan dulu serabut kabel luar agar tidak ikut terpotong saat akan memotong bungkus kabel bagian dalam.
  4. Potong bungkus kabel bagian dalam. Hati-hati jangan sampai serabut kabelnya ikutan putus juga.
  5. Lepaskan bungkus kabelnya.
  6. Setelah itu, sambungkan serabut kabel bagian dalam dengan cara memuntirnya. Agar sambungannya kuat, setelah 2-3 kali puntiran kabelnya ditekuk ke bawah. Kemudian dipuntir lagi agar tidak menonjol menusuk isolasi.
  7. Lalu diisolasi pakai isolasi hitam.
  8. Sambungkan serabut kabel bagian luar dengan cara yang sama seperti langkah 6.
  9. Lalu isolasi juga dengan isolasi hitam.
Voila! Selesai! Silahkan dicoba apakah kabelnya sudah berfungsi seperti semula :)

Aku sempat gagal karena awalnya aku ikut memotong serabut kabel bagian luar. Pas percobaan kedua sempat motong serabut kabelnya pake tang. Hahaha.. Karena nggak mau gagal lagi, aku googling dulu. Baru deh ketemu langkah yang benar. Hehehe.. Semoga bisa membantu kalian yang menemukan masalah serupa.

Dipuntir yang rapi ya..

Tara! Sudah berfungsi seperti semula.

Monday, 9 May 2016

Aku Tidak Peduli


hai
aku pernah ngambek
tapi aku juga pernah jadi sasaran ngambek orang lain

alasannya sepele,
aku lebih memilih pergi untuk orang lain
daripada untuknya

alih-alih ngambek
bukankah lebih baik jika dia segera membuat janji denganku
untuk pergi menonton di malam minggu
atau sekedar menghabiskan waktu
di kafe biru lain waktu?

tapi dia lebih memilih untuk ngambek
menumpahkan kekesalannya yang katanya salahku

kalau saja dia mengajakku duluan
aku akan menolak semua undangan
untuk memenuhi ajakannya seorang
tapi sayang..
tidak pernah dia lakukan

jangan salahkan aku jika memilih pergi
aku lelah menanti
janji-janjinya terealisasi

asal dia tahu
aku juga butuh waktu
untuk berbincang dengan orang
agar aku tidak menjadi egois
karena terus memikirkan masalahku seorang

asal dia tahu
mereka yang setengah mati kesulitan
mencari waktu untuk pertemuan
namun tetap mengusahakannya
lebih pantas mendapatkan waktuku
daripada dirinya yang hanya diam menunggu

janji denganku saja dia lupakan..




Jogja, Mei 2016

Tentang Pertemuan


(i)
pertemuan menjadi sangat berarti
ketika setelah dua orang dipisahkan
oleh jarak membentang
sekian waktu lamanya

(ii)
apakah harus menunggu jarak
untuk membuat pertemuan menjadi berarti
dan dirindukan?

Tentang Waktu


(i)
waktu adalah hadiah yg berharga
karena ia tidak dapat kembali

(ii)
hadiah berharga
diberikan pada orang yg berharga pula
diberikan untuk sesuatu yg berharga pula

(iii)
ketika seorang teman
memberikan hadiah tersebut
bersyukurlah
karena kamu spesial bagi dirinya

(iv)
ketika seorang teman tidak
memberikan hadiah tersebut
bukan berarti kamu tidak spesial
hanya saja ada yg lebih penting baginya
daripada dirimu

Wednesday, 9 March 2016

Jangan Pergi Terlalu Cepat

Aku selalu berharap kita tidak berakhir dengan cepat.
Jangan pergi terlalu cepat.
Aku tidak yakin membutuhkanmu adalah..
satu-satunya hal yang bisa kuamini saat ini.
Namun,
aku tahu ada yang tidak beres tentangku
saat kutahu kehadiranmu mulai mengabur
seperti jejak kaki yang kutinggalkan di lumpur.
Sekarang pagi enggan menjawab kerinduan
yang kubisikkan melalui malam.
Lalu aku harus bermain bisik-bisikkan dengan siapa sekarang
jika malam tak mampu berbicara dengan pagi?
"Jangan pergi terlalu cepat. Pliiiiissss..."

Wednesday, 23 December 2015

Main Game Aja..

Suatu sore di dalam sebuah gerai operator yang habis ganti nama..
Pacarku dan aku lagi duduk nunggu giliran nomor antrian kami dipanggil. Seorang bapak dan anaknya yang masih kecil, mungkin berusia 3 atau 4 tahun, berjalan ke arah kami lalu memutuskan untuk duduk di kursi yang berjarak sekitar 1 meter di depan kami. Anak perempuan ini sedikit tidak bisa diam. Ia banyak kali mengajak bapaknya berbicara. Anak ini memegang sebuah pulpen dan mulai mencoret-coret sofa berwarna merah tempat ia dan bapaknya duduk. Si bapak tidak lantas memarahi anak perempuan tersebut. Ia tiba-tiba berkata, "Eh, main game aja yuk." Lalu bapak tersebut mengeluarkan gadget berwarna putih berbentuk talenan dari dalam tas selempangnya. "Nih.." kata si bapak menyerahkan talenan tersebut ke anak perempuannya. Sang anak sempat ragu mengambilnya, tapi akhirnya ia ambil juga. Anak perempuan itu dengan gerak tangan yang mantap mulai memencet tombol hidup lalu membuka kunci layarnya. Ia mulai terlihat asik memilih-milih game yang akan dimainkan. Dan... tenggelam dalam permainannya..

Ya semestinya aku tidak perlu kaget lagi melihat hal-hal kayak gini sebab sudah banyak pembicaraan seputar gadget dan anak di luar sana. Tapi aku baru pertama kali melihat yang kayak gini in my face. Alih-alih meminta anak untuk bermain game, aku lebih senang kalau si bapak mengeluarkan kertas kosong sebagai media menggambar si anak. Iya, kan?

sumber gambar: http://realtime.wsj.com/indonesia/2012/05/
23/pengaruh-ipad-untuk-si-kecil/

Thursday, 30 July 2015

Bentuk Lain Vandalisme

Beberapa waktu lalu, tepatnya tanggal 22 Juli 2015, aku jalan-jalan ke Gunung Api Purba Nglanggeran di Gunung Kidul Yogyakarta. Ehh.. dapat oleh-oleh ini.





vandalisme/va·ndal·is·me/ n 1 perbuatan merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan barang berharga lainnya (keindahan alam dsb); 2perusakan dan penghancuran secara kasar dan ganas
Sumber: http://kbbi.web.id/vandalisme 
Kalau tidak salah lihat ada 3 atau 4 tanaman yang daunnya 'berseni' kayak gitu. Bagiku, coretan, pahatan, goresan di pohon, daun, bahkan batu itu merusak pemandangan. Mengganggu orang yang mau menikmati alam.

Lagipula kasihan ya, tanamannya jadi media tulis tangan-tangan usil. Mereka (yang nulis itu lho) udah senang-senang menikmati alam, eh tapi nggak tahu terima kasih. Alamnya malah dirusak. Udah kayak peribahasa yang populer itu lho, "air susu dibalas dengan air tuba."

Itu tanaman masih sama-sama makhluk hidup pula. Coba kamu deh mas, mbak, yang dicoret-coret gitu. Entah kenapa aku percaya kalau semua makhluk hidup (manusia, hewan, dan tumbuhan) bisa sakit dan merasa sedih kalau diperlakukan dengan tidak baik, terutama kalau makhluk tersebut nggak berbuat apa-apa, nggak mengganggu kehidupan makhluk hidup lain. Waaahh.. :(

Aku nggak tahu sih, motif mereka melakukan aksi gores-gores itu apa. Mungkin pengen eksis. Atau suka cari perhatian. Atau malah cuma ikut-ikutan doang biar jadi anak kekinian gitu. Atau kayaknya yang pada nulis-nulis itu juga udah nggak mampu beli kertas.

Begini lho, Gusti sudah kasih alam untuk dinikmati, mbok yo dirawat dan dilestarikan biar tetap bisa dinikmati orang lain. Biar bisa dinikmati sama generasi-generasi di bawahmu. Kalau kamu saja sudah memberikan contoh yang tidak baik, gimana adikmu atau anakmu melakukan yang baik? Sama kayak kalau anak di sekolah diajarin tertib lalu lintas (pas lampu merah yo berhenti), tapi saat diboncengi oleh ibu/ bapak/ kakaknya di jalan, si anak malah melihat orang yang lebih tua darinya asik melanggar peraturan lalu lintas. Capek deh. Ini kasihan gurunya yang ngajarin di sekolahlah. Nggak usah disekolahkan saja anaknya, pak, bu. Percuma.

Kalau teman-teman ingin bepergian, selalu ingat: jangan mengambil apapun kecuali gambar, jangan meninggalkan apapun kecuali jejak, dan jangan membunuh apapun kecuali waktu. Oke? :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...