Showing posts with label Hujan. Show all posts
Showing posts with label Hujan. Show all posts

Friday, 1 December 2017

Badai 2017

Ilustrasi Hujan
Kemarin pagi, saya scrolling postingan-postingan di grup ICJ. Kabar mengenai hujan lebat, banjir, dan tanah ambles yang merupakan dampak dari badai Cempaka masih mendominasi isi postingan. Semakin banyak kabar yang saya baca, semakin dekat saya dengan pemahaman bahwa manusia nggak ada apa-apanya dibandingkan jagat raya ini. Manusia begitu kerdil di mata alam.

Saya ingat dua buah kalimat dari Evo Morales yang berbunyi: Sooner or later, we will have to recognise that the Earth has rights, too, to live without pollution. What mankind must know is that human beings cannot live without Mother Earth, but the planet can live without humans.

Kurang lebih terjemahan bebasnya seperti ini: Cepat atau lambat, kita akan menyadari bahwa Bumi juga punya hak untuk bebas dari polusi. Yang manusia harus ketahui adalah manusia tidak bisa hidup tanpa bumi, tapi planet ini dapat hidup tanpa manusia.

Dua buah kalimat tersebut rasanya semakin mengingatkan kita untuk tidak pongah, tidak takabur, tidak tamak. We may free to exploit the Mother Earth, but we never know what will she do in return. Salah seorang warga di Dusun Trukan yang saya dan teman-teman temui hari ini menuturkan bahwa banjir tahun ini adalah banjir besar setelah kurang lebih 29 tahun terakhir tidak pernah terjadi banjir seperti ini.

Friday, 6 February 2015

#4 Jogja-Brebes: Pantai Manganti yang Ramai pun Sunyi

Minggu, 21 Desember 2014
Hari ini adalah hari kepulangan kami kembali ke Jogja. Mengingat perjalanan yang akan kami tempuh memakan waktu berjam-jam, kami tidak mau berangkat kesiangan. Mendadak juga sih, ngabarin bapak sama orang rumah yang lain. Akhirnya bapak nggak ke gereja deh, mbak Wulan jadi buru-buru nyiapin sarapan. Tiba-tiba rumah jadi sedikit lebih gaduh dari biasanya. Hehehe.. Untuk pertama kalinya juga aku ngobrol banyak sama mbak Wulan dan tahu banyak tentang dia. Mbak Wulan sedang hamil. Dia cerita katanya di rumah suka takut kalo sendirian pas malam hari. Makanya pas kami datang, dia lebih tenang. Dia agak nggak percaya gitu kami bakal pulang hari ini. Dikiranya aku bakal ada di sana sampai Natal. Yahh.. apa boleh buat aku sudah dicari orang rumah. Jadi, pagi itu aku bantuin mbak Wulan masak dikit-dikit. Hehe.. Sementara itu, bapak sibuk ngurusin motor yang akan kami pakai pulang.

Akhirnya pukul 10.25 WIB, kami meninggalkan rumah di Bumiayu. Kami juga mampir untuk membeli oleh-oleh. Pukul 12.30 WIB, kami tiba di Gombong tapi tidak mampir ke rumah Ken. Kami memutuskan untuk menyambangi pantai Manganti yang katanya sedang naik daun. Berbekal ke-nekat-an kami dan petunjuk-petunjuk singkat dari Ken, kami menyusuri jalan menuju pantai di balik bukit ini. Jadi dari Gombong, carilah pertigaan Suwuk lalu naik ke arah atas ngikutin jalan. Nanti ketemu pertigaan lagi, kalo ke kiri ke arah pantai Karang Bolong, nah, ambillah jalan ke kanan. Perjalanan masih jauh, kawan! Jalannya naik-turun. Pastikan kendaraan kalian mampu mengalahkan jalan menanjak yang tidak manusiawi. Aku sempat turun dari motor gara-gara motornya nggak kuat -_- Setelah itu, kalian akan melihat penunjuk arah ke Pantai Manganti. Nah, tidak jauh dari petunjuk arah tersebut, kalian akan menemukan semacam gerbang masuk. Biaya retribusi pantai Manganti sebesar Rp 4.000,- per orang, tidak dipungut biaya parkir. Asik, kan?

Batu karangnya bisa dikunjungi dengan berjalan kaki jika air sedang surut
(dok. pribadi)
Setelah itu, tidak ada yang berbeda dengan jalannya. Tetap naik-turun. Bedanya,

#3 Jogja-Brebes: Kaligua, Kebun Teh dengan Bonus Goa Jepang dan Tuk Bening

(dok. pribadi)
Sabtu, 20 Desember 2014
Hujan mengguyur sejak pagi. Tapi kami nggak mau hari ini berdiam diri di rumah lagi. Akhirnya, saat matahari tengah hari menyembul sedikit di balik awan mendung, kami memutuskan bergegas ke... KALIGUA. Jalan menuju Kaligua penuh dengan pohon pinus yang tinggi menjulang. Sebelum sampai di tempat yang dimaksud, pengunjung akan melewati Tlogo Ranjeng. Pengunjung bisa memarkirkan kendaraan mereka di seberang Tlogo Ranjeng. Hal yang paling dikenal mengenai Tlogo Ranjeng adalah keberadaan ikan lele raksasanya. Menurut cerita bapak yang menjual roti untuk pakan ikan di situ, lele-lele ini tidak selalu ada. Waktu kami datang pun, kami tidak melihat keberadaan lele yang dimaksud. Hanya terdapat puluhan ikan emas dan nila raksasa. Menurut cerita bapak penjual roti, keberadaan ikan-ikan ini berhubungan dengan hal gaib. Tidak ada yang tahu siapa yang menaruh bibit ikan-ikan tersebut di sana. Aku memutuskan untuk percaya pada penuturan bapak itu. Kocor dan aku kemudian memberi ikan-ikan tersebut makan. Kami membeli roti seharga dua ribu rupiah. Kalian harus merasakan sendiri sensasinya memberi makan ikan-ikan jumbo ini. Mengasyikkan! :) Jangan lupa memasukkan uang ke kotak sebagai ucapan terima kasih. Setelah puas memberi makan, kami pun melanjutkan perjalanan.

Tempat parkir kendaraan (dok. pribadi)
Tlogo Ranjeng (dok. pribadi)
Rebutan roti (dok. pribadi)
Obyek Wisata Kaligua merupakan sebuah perkebunan teh sekaligus obyek wisata yang dikelola oleh pemerintah Kabupaten Brebes. Retribusi obyek wisata

Wednesday, 1 January 2014

Selamat Tinggal 2013! Selamat Datang 2014! (1)

Selalu berat meninggalkan sebuah tahun. Dan tak ada bedanya ketika harus meninggalkan tahun 2013.

Di tahun 2013, saya menemukan banyak teman baru, partner baru, bahkan keluarga baru yang tidak terduga. Di tahun ini pula banyak pencapaian yang tidak pernah saya duga sebelumnya, yang tidak pernah terlintas dalam benak maupun pikiran saya. Kejutan-kejutan kecil maupun besar datang silih berganti. Saya mengambil lebih banyak tantangan dan karenanya pengalaman saya bertambah ekstra banyak. Saya semakin tahu apa yang saya inginkan dan bekerja keras untuk mencapainya (ngeyel, melawan arus, take risk, mengorbankan banyak hal). Perasaan senang dan puas mewarnai hari-hari saya setelahnya.

Akhir Januari saya mengikuti orientasi Mapasadha dan dilantik menjadi Anggota Muda di awal Februari. Senangnya bukan kepalang karena proses yang saya dan teman-teman seangkatan saya lalui tidaklah singkat. Beberapa dari kami merelakan waktu liburan semester dan bahkan kegiatan wajib universitas. Yap, saya punya saudara baru yang memiliki kesukaan yang sama, pecinta alam.

Saya belajar penulisan dan sedikit tentang fotografi setelahnya. Saya tertarik di kedua bidang tersebut dan tidak saya sia-siakan. Terima kasih mas Sempal dan mbak Widi sudah berbagi ilmu. Mereka juga membantu saya mempersiapkan keberangkatan ke Rinjani dan menulis berita untuk website universitas. Oh ya, dibalik penulisan berita itu ada Pak Rio, dosen pembimbing Mapasadha. Beliau yang meminta saya menulis berita untuk website. Biar Mapasadha makin dikenal katanya.

Saya pergi ke pantai Wedi Ombo yang jauuuuhh banget di Wonosari sana bersama saudara saya, Silis. Salah satu perjalanan spontan yang menyenangkan dengan berkendara motor :)

Untuk pertama kalinya sejak saya bergabung dengan PSF Psikologi, kami mendapat tugas koor untuk acara EKM di Gereja Pringwulung. Itu terjadi di minggu terakhir bulan Mei. Kami belajar dengan orang yang tepat. Saya belajar banyak darinya, bukan hanya how to sing, tapi saya juga memperhatikan bagaimana caranya melatih kami. Saya suka caranya! Terima kasih kak Bogie. Saya juga kenal orang baru, kak Anes dan kak Dika, lebih dekat lagi dengan mbak Vika :)

Ulang tahun ke-19! Semakin berkurang saja umur saya. Tapi jiwa tetap muda dong ;) Terima kasih teman-teman kelompok live in. Karena kalian, saya bisa berenang bersama ikan-ikan di kolam Paingan yang rindang (warna airnya hijau). Hahaha

Saya bertemu keluarga baru di Wonogiri sejak kegiatan Live In Psikologi. Hanya saya yang tidak berbagi keluarga. Hahaha yang lain pada berpasangan dalam satu rumah, sedangkan saya hanya sendiri. Sebenarnya saya juga diutus menempati satu rumah dengan teman saya. Namun ada teman yang keberatan seorang diri, maka daripada dia mundur dan memutuskan ikut tahun depan, saya ajukan diri menggantikannya seorang diri. Saya malah suka. Heheh.. Saya belajar banyak hal di Wonogiri. Kehidupan mereka seperti kehidupan masyarakat desa pada umumnya yang bermatapencaharian petani. Sederhana, tapi toh mereka tidak mengeluh. Alam menyediakan yang mereka butuhkan. Saya belajar menghargai hasil jerih payah orang lain dan diri sendiri ketika saya minta diajari membuat caping. Saya salah menganyam berkali-kali, mbak Tri berkali-kali membenarkan dan akhirnya dia yang menyelesaikannya sampai jadi. Terima kasih, mbak Tri. Sepulang dari Wonogiri, hanya bawaan saya yang jadi lebih banyak. Sepertinya saya jadi anak kesayangan :)

Monday, 4 November 2013

Aku Lelah

Sudah beberapa waktu berlalu. Aku tidak lagi menjadi bunga yang siap kau petik dan kau baui wanginya. Aku bukan lagi burung yang selalu berkicau riang kala kau merasa kesepian. Aku lelah ikuti arusmu. Kau terus saja berlari. Pergi dan hilang kemanapun, sesuka hatimu. Sekarang biarku di sini saja, menanti bunyi derap langkah kakimu kembali. Di bawah kaki pelangi. Di suatu senja yang dingin. Sendiri.

Saturday, 11 May 2013

Superb Day!

Minggu lalu aku pergi assesment ke Wonogiri. Assesment buat persiapan live in bulan Juni depan. Aku kebagian dusun Jepurun Kidul. Yang berangkat dari kelompokku ada 6 peserta dan 4 pendamping. Kami berangkat bersama beberapa kelompok dusun lain. Aku boncengan sama Ken. Waktu berangkat, Ken yang boncengin.

Mbak Nina, pendamping kami, udah bilang kalau perjalanan ke sana memakan waktu paling nggak 3 jam. Habis, habis dah tuh pantat. Kami janjian kumpul di kampus jam setengah tujuh pagi karena berencana berangkat jam tujuh. Tapi ngaret, jadinya berangkat jam setengah delapan pagi. Sebelum berangkat, aku foto dulu sama Shrek :) Shrek mulai hari itu jadi maskot perjalananku. Jadi, kalo aku mau jalan-jalan, dia ikut.


Kami berangkat, deh. Baru ajaa keluar dari gapura mau ke ring road, aku sama Ken udah hampir nyasar --, Kan arahnya ke Timur, Ken malah mau ngambil jalan mobil, mau puter balik karena salah ngeliatin orang di depan. Untung aja mbak Nina ngeliatin kami "Ken, sini!" hahaha untung belum terlanjur muter, kembalilah ke jalan yang benar.

Perhentian pertama adalah pom bensin di jalan Adisucipto. Kami lewat jalan Prambanan-Piyungan. Dan... perjalanan benar-benar di mulai. Tau sendiri kan jalan ke Wonosari tuh, penuh rintangan, menanjak berkelok-kelok. Percobaan nyasar kedua terjadi ketika ada persimpangan yang ngarahin ke Nglanggeran dan kami kehilangan ciri-ciri rombongan di depan kami.
"Waduh, ini belok apa lurus, Dri?" tanya Ken dengan logat Kebumennya.
"Belok, Ken." -- karena aku ngeliat banyak yang belok waktu itu.
Kami belok trus tiba-tiba berhenti, "Lurus ah, Dri," kata Ken.
"Ooo.. yaudah jalan dulu ke sana, ntar kita ketemu jalan yang tadi kok", kataku. Ken agak nggak yakin gitu.
"Halah, udah tenang aja", aku meyakinkan Ken.
Akhirnya kami kembali ke jalan yang benar dan berada di urutan ke-3 dari belakang. Selamat.

25 JAM!!


Friday, 19 April 2013

Pagi yang Gerimis

Kutitipkan salamku pada hembusan sejuk angin,
Sapaan hangat mentari pagi.
Menembus rintik-rintik hujan,
Mengacaukan partikel-partikel di udara.
Daun bergemerisik,
Embun di atasnya pun ikut buyar.
Melewati garis batas ruang, yang bahkan tak kuketahui,
Disambut kicauan burung-burung kecil,
Berharap salamku nggak nyasar. Hehehe

Selamat Pagi :)

Sunday, 7 October 2012

Siapa Sangka (Hujan)


Siapa sangka hujan turun di hari Minggu?
Siapa sangka langit merah pagi tadi merupakan pertanda hujan ‘kan berkunjung?
Siapa sangka bumi dan hujan kembali bercumbu setelah sekian lama tak bertemu?
Siapa sangka kedatangan papa ke Jogja pagi tadi membawa serta sekawanan kecil titik-titik hujan dari Bogor?

Apa si Begonia di depan rumah tau?
Apa si Rumput Teki tau?
Apa si Kecoa tau lalu ke luar dari sarangnya?
Apa semut-semut yg berjejer di dinding itu tau?
Apa burung-burung tau?
Apa kau tau?


(Catatan kecil di hari berhujan terbaik selama beberapa bulan terakhir)

Saturday, 7 January 2012

Aku dan Hujan

Pembacaku yg setia -pede- , selamat berjumpa kembali! Apa kabar? Pasti luar biasa :D
Dingin sekali malam ini karena hujan sedari tadi mengguyur kota Jogja. Kalian tahu, hujan malam ini mungkin akan menjadi sejarah berharga buat aku di awal tahun 2012! *siapa peduli?* Baiklah, pada kesempatan kali ini, aku akan bercerita tentang sepotong mozaik kecilku di tengah hujan....

Aku berencana pergi ke Gereja Kumetiran setelah pulang dari rumah Jimmy. Dan itu terlaksana. Tepat jam enam sore aku tiba di sana. Di pertengahan misa, hujan mulai turun. Aku sih, santai-santai saja. Paling ntar pas pulang udah berhenti hujannya. Lalu mulai harap-harap cemas waktu misa udah mau selesai, si hujan belum berhenti-berhenti aje. 'Ah, tunggu agak reda ajalah, baru pulang'. Akhirnya reda beneran tuh, hujannya. Setelah berdoa mohon perlindungan biar sampai rumah dengan selamat, kuhampiri sepeda motorku yang basah diguyur hujan. Kalau dia hidup, mungkin udah menggigil kedinginan. Kasihan.

Perjalanan pulang pun dimulai. Aku memilih tidak menggunakan mantol, seperti biasa, cuma gerimis. Curah hujan memang masih cukup bersahabat sampai kemudian bertambah deras sedikit. Aku masih kekeuh nggak mau pake mantol. Semakin ke selatan semakin deras. Masih kekeuh.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...